NGANJUK – Matahari tepat di atas kepala, namun sengatannya kalah membara dibanding semangat ratusan buruh yang memadati Desa Ngelundo. Minggu (03/05/26), nisan Marsinah kembali menjadi saksi bisu: perjuangan kelas pekerja belum usai.
Sejak pukul 08.00 WIB, Desa Pandean sudah memerah. Ratusan massa yang tergabung dalam Serikat Pekerja Bersatu Sejahtera (SPBS) menyemut di basecamp mereka. Dengan atribut serba merah, mereka bersiap melakukan “perjalanan ideologis” menuju makam Pahlawan Buruh Nasional, Marsinah, di Kecamatan Sukomoro.

Di bawah kawalan mobil patroli Polsek Gondang, iring-iringan massa membelah jalanan Nganjuk. Dari atas mobil komando, pengeras suara tak henti-hentinya memekikkan pesan perlawanan. Mereka mengingatkan warga yang menonton di pinggir jalan bahwa kemapanan hari ini adalah buah darah dari para pendahulu seperti Marsinah.
“Pekerja Nganjuk jangan hanya jadi objek atau pelengkap penderita. Kita adalah motor pembangunan!” teriak orator dari atas mobil komando.
Setibanya di kompleks pemakaman Desa Ngelundo, suasana berubah khidmat namun tetap bertenaga. Yel-yel “Hidup Buruh” dan “SPBS Jaya” menggema, membakar sisa-sisa tenaga massa di tengah cuaca yang panas
Ketua Umum SPBS, Satriyo Pamungkas, S.Psi, dalam orasinya menegaskan posisi tawar buruh yang tidak boleh dianggap remeh. Ia menyoroti isu krusial yang selalu menjadi momok di daerah yaitu Upah Layak. Bagi Satriyo, menziarahi Marsinah bukan sekadar seremoni tabur bunga, melainkan momentum untuk menuntut hak-hak normatif pekerja yang sering kali dipangkas atas nama investasi.
Momen paling emosional pecah saat Dr. Joko Prasetyo, S.Sy., S.H., M.H. Ketua Divisi Hukum SPBS yang akrab disapa Bang Jack, Berdiri didepan patung Ibu Marsinah di pelataran makam. Ia membacakan puisi berjudul “Suara Hati Marsinah”.

Suasana seketika hening. Bang Jack yang biasanya lugas dalam urusan legal formal, kali ini tampak bergetar. Ia larut dalam emosi, membayangkan betapa berat penderitaan Marsinah yang harus gugur demi membela kawan-kawannya. Pantauan di lapangan menunjukkan banyak massa aksi yang tak kuasa menahan air mata saat bait demi bait puisi itu dibacakan.
Tepat pukul 11.00 WIB, massa mulai membubarkan diri dengan tertib. Mereka pulang membawa janji: bahwa api Marsinah akan tetap menyala di setiap pabrik dan lini produksi di bumi Anjuk Ladang.
Rio







