JOMBANG, KrisnaNusantara.com – Pesta musik akbar Dialog Cinta Festival Vol. 3 yang tengah berlangsung di Stadion Merdeka Kabupaten Jombang, Sabtu (19/7) dan Minggu (20/7) ini, memang berhasil menyedot ribuan penonton dengan kehadiran musisi papan atas seperti Dewa 19, NDX AKA, Nidji, dan lainnya.
Namun, di balik gemerlap panggung, suara protes datang dari para pedagang di Pujasera dan sekitar stadion yang merasa terimbas kebijakan sterilisasi area.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak penyelenggara (Event Organizer/EO) angkat bicara.
Irvan Andika Pratama, Perwakilan Promotor dan EO Dialog Cinta Volume 3, saat ditemui tim media di sela konser hari pertama, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran persiapan acara.
“Alhamdulillah sampai hari ini semua berjalan baik. Semua line up artis sudah datang sesuai jadwal. Ini benar-benar menjadi momen spesial bagi warga Jombang, apalagi setelah sebelumnya sempat ada konser yang gagal,” ujar Irvan dengan antusias.

Kendati demikian, para pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM di sisi barat hingga selatan stadion mengeluhkan pembatasan akses akibat pemasangan pagar dan penutupan sebagian area konser. Mereka merasa pendapatan mereka terancam karena sulitnya pembeli menjangkau lapak mereka.
Menanggapi hal ini, Irvan menjelaskan bahwa kebijakan penutupan akses dilakukan atas arahan pihak keamanan dan kepolisian demi kelancaran dan keamanan acara. Ia menegaskan, area pintu utama stadion, misalnya, memang perlu diamankan secara penuh. Irvan juga membantah adanya keputusan sepihak yang merugikan pedagang.
“Sejak awal, kami dari pihak EO sudah melakukan sosialisasi kepada para pemilik lapak. Penutupan hanya berlangsung dua hari, 19–20 Juli, dan sebagai bentuk tanggung jawab, kami juga telah memberikan kompensasi. Jadi tidak benar jika dibilang sepihak atau tanpa koordinasi,” tegas Irvan.
Lebih lanjut, Irvan menambahkan bahwa pihak EO tetap berupaya menjaga agar operasional pedagang UMKM di sisi samping stadion tetap berjalan. Mereka menyediakan jalur khusus bagi pembeli untuk tetap bisa mengakses dagangan para pelaku usaha. “Kalau kita mementingkan ego, akses pembeli bisa saja ditutup total. Tapi faktanya, semuanya tetap diberi akses. Kita tidak ingin ada pihak yang dirugikan,” imbuhnya.
Koordinasi dan perizinan, menurut Irvan, juga sudah dijalankan sesuai prosedur ketat. Berbagai rapat telah melibatkan instansi terkait mulai dari kelurahan hingga dinas di tingkat kabupaten untuk memastikan semua aspek terpenuhi.

Di akhir wawancara, Irvan berharap Dialog Cinta dapat menjadi agenda tahunan yang mampu mengangkat nama Kabupaten Jombang sebagai tuan rumah konser besar bertaraf nasional. “Harapannya konser ini terus berlanjut, bukan cuma Volume 3, tapi ada Volume 4 dan seterusnya. Kami ingin Jombang dikenal sebagai daerah yang bisa menghadirkan artis-artis nasional dan menjadi destinasi hiburan yang positif,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi antara hiburan, pelaku UMKM, dan citra baru Kabupaten Jombang, Dialog Cinta Volume 3 diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah festival besar mampu menciptakan dampak positif menyeluruh, meskipun tantangan di lapangan tak terhindarkan. (JF)







