Politik & Pemerintahan

Gus Rozin: 1 Diantara 5 Kandidat Kuat Ketum PBNU di Muktamar Ke-35 NU, Siapakah Pemilik Tiga Tradisi Pesantren ‘Tambakberas-Denanyar-Kajen’ ini??

×

Gus Rozin: 1 Diantara 5 Kandidat Kuat Ketum PBNU di Muktamar Ke-35 NU, Siapakah Pemilik Tiga Tradisi Pesantren ‘Tambakberas-Denanyar-Kajen’ ini??

Sebarkan artikel ini
Gus Rozin

Gus Rozin: 1 diantara lima calon yang diunggulkan sebagai calon kuat Ketua Umum PBNU 2026 – 2031 yang saat ini sebagai Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, perlu kita ketahui dengan pasti perjalanan kehidupan masa lalunya dan siapakah dia.

Jombang – KrisnaNusantara

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), garis keturunan bukanlah sekedar silsilah keluarga, melainkan warisan ilmu, dan tanggung jawab perjuangan yang sangat besar. Bagi KH Abdul Ghaffar Rozin yang akrab disapa Gus Rozin, perjalanan hidupnya dibentuk oleh tiga tradisi besar pesantren di jawa: Tambakberas, Denanyar, dan Kajen.

Dari garis sang ayah, KH Mochamad Djamaludin Ahmad yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Tambakberas, Gus Rozin mewarisi nilai-nilai keilmuan dan kedalaman spiritual dari Pesantren Tambakberas Jombang.

KH Mochammad Djamaludin Ahmad merupakan seorang ulama kharismatik asal Jombang yang dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin di Tambakberas. Beliau lahir pada tahun 1943 dan meninggal pada 24 Februari 2022. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok yang istiqomah dalam membina santri dan membimbing masyarakat melalui pendekatan spiritual yang mendalam. Di kalangan masyarakat, beliau masyhur sebagai pakar Tasawuf, bahkan sering dijuluki sebagai “Tasawuf berjalan.”

Sementara dari garis sang Ibu, Nyai Hj Khuriyah Abdul Fattah, mengalir garis keturunan dari Pesantren Denanyar Jombang. Nyai Khuriyah merupakan putri dari KH Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah. Nyai Musyarofah sendiri adalah putri kandung KH Bisri Syansuri. Artinya, dari garis maternal ini, Gus Rozin merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

Dua garis keturunan besar dari Tambakberas dan Denanyar tersebut kemudian berpadu di Kajen, Margoyoso, Pati. Sejak kecil Gus Rozin tumbuh dan ditempa di Pesantren Maslakul Huda di bawah bimbingan langsung KH MA Sahal Mahfudh bersama istrinya, Nyai Hj Nafisah Sahal yang merupakan bibi Gus Rozin. Dari Mbah Sahal, Gus Rozin belajar menyatukan keteguhan tradisi keilmuan dengan pemikiran sosial yang responsif terhadap perkembangan  zaman.

KH MA Sahal Mahfudh adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2000 hingga 2014. Sebelumnya selama dua periode menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak 1999 hingga 2014.

Beliau merupkan sosok ulama Kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional, karena beliau juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang memunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Beliau diakui juga sebagai salah satu ahli Fiqih terbaik di Indonesia.

Bagi Gus Rozin sendiri, warisan nasab yang terikat kuat dengan para tokoh besar NU ini bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan sebuah pengingat akan pengabdian.

Dalam diri Gus Rozin, melebur tiga kekuatan besar yang membentuk kepribadiannya secara utuh:

  1. Kelembutan sang ayah yang membumi dan menyejukkan
  2. Ketegasan prisnsip perjuangan sang kakek buyut, KH Bisri Syansuri, dalam mengawal jam’iyah NU, dan
  3. Kecemerlangan fiqih sosial ala Mbah Sahal

Di tangan Gus Rozin, kepemimpinan tidak ditampilkan lewat arogansi kebangsawanan Pesantren, melainkan lewat keteledanan (uswah hasanah), inovasi dalam dunia pendidikan, dan komitmen tiada henti untuk memerdayakan umat.

(Dedy M.Phil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *