Sambut Muktamar Ke-35 NU, Nahdlatut Turots mempersiapkan sebanyak enam agenda Keilmuan di Tambakberas selama berlangsungnya proses Muktamar Nahdlotul Ulama.
Jombang – krisnanusantara.com
Komunitas kajian naskah klasik, Nahdlatut Turots (NT), tengah bersiap menyemarakkan perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) melalui serangkaian agenda keilmuan. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat tradisi literasi dan kajian manuskrip peninggalan para ulama Nusantara.
Pelaksanaan seluruh agenda tersebut dipusatkan di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Kegiatan dijadwalkan berlangsung selama lima hari penuh, terhitung mulai 27 hingga 31 Agustus 2026.
Secara umum, rangkaian kegiatan ini bertujuan memperkokoh tradisi kajian manuskrip melalui pembedahan naskah (tahqiq), upaya konservasi, pemanfaatan teknologi digitalisasi, serta penguatan jejaring antarpegiat turots dari berbagai wilayah.
Persiapan Tehnis

Guna memantangkan persiapan teknis, pengurus Nahdlatut Turots telah menggelar pertemuan konsolidasi di Lesehan Lasiyem, Kaliwungu, Kamis (13/8/2026). Pertemuan ini dihadiri oleh Dewan Pembina NT KH Ahmad Tajul Mafakhir, Ketua NT KH Muhammad Utsman, ketua panitia, serta jajaran pengurus inti.
Dari pihak tuan rumah, tampak hadir perwakilan pengasuh Pesantren Tambakberas, yakni KH Ahmad Lathif Malik dan KH Abdul Wahab Yahya, untuk mengawal kesiapan tempat dan koordinasi lapangan.
Ketua Nahdlatut Turots, KH Muhammad Utsman, menjelaskan bahwa terdapat enam program utama yang difokuskan pada penyelamatan dan pemikiran naskah-naskah kuno karya para kiai pendahulu.
“Kesemuanya terkait dengan turots, manuskrip kuno dari para kiai seluruh Nusantara,” ujar kiai muda yang akrab disapa Lora Utsman tersebut, Jumat (14/8/2026).
Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan yang disajikan dinilai cukup komprehensif untuk merangkul pelbagai kalangan. Formatnya mencakup pameran manuskrip, dauroh tahqiq (pelatihan sunting naskah), klinik turots, musyawarah besar, tradisi ijazahan sanad, hingga seminar berskala internasional.
Ketua Panitia Kegiatan, Ayung Notonegoro, memaparkan bahwa pameran manuskrip akan ditempatkan di area sekitar makam KH Abdul Hamid Hasbullah, persis di depan Gedung Serba Guna (GSG) Hasbullah Said, mulai Kamis (27/8/2026) hingga Senin (31/8/2026).
Pada titik lokasi yang sama, panitia juga menyediakan ruang khusus berupa klinik turots. Fasilitas ini dibuka sebagai wahana edukasi publik untuk mempelajari teknik preservasi fisik naskah kuno, proses digitalisasi, hingga ruang konsultasi mendalam bersama pakar turots.
Sementara itu, untuk program pelatihan teknis atau dauroh tahqiq, panitia mengalokasikan tempat di Pesantren Hidayatul Qur’an Peterongan. Pelatihan penulisan dan riset naskah ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni pada Jumat dan Sabtu.
Antusiasme peserta terhadap dauroh tahqiq tercatat sangat tinggi. Kendati panitia membatasi kuota hanya untuk 40 orang demi menjaga kualitas pengerjaan, jumlah pendaftar dilaporkan telah menembus angka 135 calon peserta sehingga harus melalui tahap seleksi ketat.
Agenda strategis lainnya adalah Musyawarah Besar (Mubes) Pegiat Turots se-Nusantara yang direncanakan bertempat di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas pada Sabtu (29/8/2026) siang. Forum ini diproyeksikan bakal dihadiri sekitar 200 aktivis dan peneliti naskah dari pelbagai penjuru daerah.
Latar Belakang
Ayung menegaskan bahwa gelaran Muktamar NU seyogianya tidak sekadar menjadi ajang suksesi kepemimpinan atau panggung politik organisasi semata. Momentum besar ini harus diimbangi dengan penguatan identitas dan citra keilmuan yang menjadi akar sejarah pesantren.
Bagi pencari keberehan sanad, panitia menyiapkan agenda ijazahan sanad keilmuan pada Sabtu (29/8/2026) malam di Masjid Induk Tambakberas. Sebanyak 50 kiai sepuh dari dalam dan luar negeri dijadwalkan hadir untuk mentransmisikan sanad keilmuan kepada para pengikutnya.
Adapun puncak dari seluruh rangkaian kegiatan Nahdlatut Turots akan ditutup dengan seminar turots di Aula MAN 3 Tambakberas, Jombang, pada Minggu (30/8/2026). Forum ilmiah ini ditargetkan menyedot sekitar 300 peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa Ma’had Aly, peneliti, serta para kolektor naskah kuno.
Seminar tersebut mengusung tiga topik utama, yakni pemetaan kekayaan turots Nusantara, relasi historis NU dan turots, serta strategi internasionalisasi turots, dengan menghadirkan sejumlah guru besar bereputasi nasional dan internasional sebagai pemateri.
Rangkaian acara keilmuan ini mendapat apresiasi hangat dari keluarga besar Pondok Pesantren Tambakberas. Pengasuh Pondok Al-Muhajirin 3, KH Ahmad Lathif Malik, menilai inisiatif Nahdlatut Turots sangat krusial dalam merawat identitas serta tradisi intelektual Islam di Indonesia.
(Dedy)







