KrisnaNusantara.com – Jauh sebelum Nahdlatul Ulama resmi berdiri, para ulama pesantren telah membangun fondasi perjuangan melalui berbagai organisasi. Fondasi ini tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga ekonomi, pendidikan, dan pemikiran.
Pada 1918, KH. Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatut Tujjar, sebuah organisasi yang menghimpun pedagang Muslim untuk memperkuat ekonomi umat. Organisasi ini lahir dari kesadaran bahwa kemandirian ekonomi adalah syarat penting bagi kebangkitan umat.
Sebelumnya, pada 1916, berdiri Nahdlatul Wathan yang bertujuan menumbuhkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air di kalangan santri. Pendidikan dan nasionalisme menjadi perhatian utama organisasi ini.
Selain itu, lahir pula Taswirul Afkar, forum diskusi intelektual yang menjadi ruang dialog para ulama dan santri dalam membahas persoalan agama, sosial, dan kebangsaan. Forum ini melatih santri berpikir kritis dan terbuka.
Ketiga organisasi ini sering disebut sebagai trilogi awal gerakan NU, yang masing-masing mengisi ruang perjuangan berbeda namun saling melengkapi.
Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan, dan Taswirul Afkar menjadi fondasi kuat bagi lahirnya NU. Dari sinilah terlihat bahwa NU sejak awal bukan hanya gerakan keagamaan, melainkan gerakan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan umat.
(dilansir dari berbagai sumber)
(nath)











